akan aku ceritakan apa lagi yang terjadi di kelas hari ini. lagi-lagi kemanusiaan yang terasa di benak untuk diruangkan, dituangkan dan ditunangkan dengan kertas.
akan aku ceritakan tentang sebuah kuliah kontemporer yang berbau pemikiran, ranah politik tentunya. pagi kemarin yang diajarkan adalah tentang sebuah semangat, sebuah nilai, dan sebuah diskursus yang tertanam dalam manusia-manusia kelas menengah di masa ini. adalah sebuah ide yang berbau kebebasan, kesetaraan, dan persamaan. sebuah konsep dan teori bertajukkan libertarian.
nilai-nilai liberal ini ternyata sejak aku bocah sudah masuk di dalam ruang di otak-otakku, sebuah ajaran untuk selalu berkompetisi. tontonan yang selalu kau lihat di tivi-tivi lebar layar tipis, dimana semua adalah untuk menjadi yang terbaik, tercantik, tersohor, terkaya, terfaforit, dan semuanya yang ter-baik. jarang, bahkan ada dari sebuah tontonan yang mengajarkan sebuah dongeng mahabrata. adalah semangat kooperatif yang menjadi salah satu nilai pokok komunitarian.
tidak ada yang salah dalam sebuah kompetisi, yang salah adalah dimana kebebasan yang dijunjung adalah semangat individualisme. semua berprioritaskan pada libeti, semuanya menjadi utama diatas nilai sebuah otoritas dan tradisi. salah dikala ruang publik menjadi sempit karena yang akan kau pihak adalah hanya dirimu, hanyalah kamu, dan kamu saja. kau akan takut dengan adanya kehadiran orang lain yang akan mengancam dirimu, mengancam kebebasanmu. itulah yang kau pikir. salah jika berujung pada sikapmu yang individualisme yang mana tak lagi menekankan pada kesosialan manusia dan kerjasama antara dirimu. beginilah doktrin utamanya: hak individu dan prinsip laissez faire.
aku tak akan mengguruimu, karena aku hanya bercerita. pasti kau berfikir, “lalu apa yang salah dengan ini?”
tidak ada. sungguh semuanya normal. tapi coba kau pikirkan saat dirimu, tubuhmu, pikiranmu, pemiliknya hanyalah dirimu sendiri. bahkan bukan milik ibumu, kekasihmu, atau tuhanmu. dan pikirkan lagi apakah yang kau baca dan yang tonton selama ini adakah yang bersifat sebuah kerjasama, bukan semata hanya persaingan? jika iya, aku rasa aku ini kasihan sekali. mungkin kau juga begitu, kasihan. kasihan aku dan kamu hidup dalam sebuah kerusakan sosial. kerusakan struktur dan sistem yang kau pikir ini baik-baik saja.
aku hanya ingin bercerita.