yasinta sonia ariesti
yang jatuh dalam pada alam saat semuanya menjunjungnya dan menghamparkan satu-satunya lapangan yang luas seperti samudra yang bisa kau jejaki, jalani, dan tapaki. aku yang akan menginjak banyak tanah yang baunya baru
[Flash 9 is required to listen to audio.]

Payung Teduh: Menuju Senja

prakata lain tentang senja…..

cause we are young and wild and free

dan segala parafrasa ini salah. yang benar hanya untuk satu periode, dimana muda bukan lagi teratok pada usaia melainkan pemikiran dan perilaku diri. kita tidak liar karena terikat pada sgenap aturan yang telah dibukukan atau yang belum, bahkan tidak tertulis dimana pun. kita tidak bebas karena ruang dimana gerak-gerik selalu terbatas, tanah ini bukan hanya milik dan nenek moyang. ada banyak nenek moyang disini, dari berbagai macam kepercayaan.

kita ini tidak muda, tidak liar, dan tidak bebas. apalagi. kita ini hidup dengan tuntutan dari orang-orang yang menaruh investasinya pada kita, investasikan uangnya untuk sekolah, atau membelikan kita barang-barang yang bagus. kita ini hidup dengan aturan jam malam dan norma-norma yang tumbuh, sebuah nilai dari timur atau nilai dari agama yang menuliskan pada diri untuk apa kita ini hidup. identitas yang menempel lekat diatas jidatmu.

jadi pikirkanlah lagi slogan kebanggaan anak muda jaman sekarang ini, sebebas apakah kau akan bertindak dan pergi?

keluhan dan kesalan.

ah kamu ini banyak mengeluh. ya biarkan saja, namanya juga manusia. kan mengeluh itu manusiawi kan. tapi bagaimana mungkin kalo terus-terusan kemanusiawian itu dianggap wajar, siapa yang mau menyadarkannya dong. lalu segeralah menyesal banyak-banyak. melulu mengeluh dan mengomel kekesalan barangkali ada guna, berkaca pribadi akan lebih memahami kenapa keluhan itu terusan saja keluar dari umpatan yang lancar.

seperti tak bertuhan saja katanya, kalau terus berkeluh kesah. seperti tidak ada keyakinan sajalah, makanya banyak-banyak bersyukur pada keyakinanmu. keyakinan kan ada banyak. ada yang mahzab, aliran, ideologi, ya apapun saja. yg penting kau yakin dan tersemangati. penting untuk menangis, tapi sisakan sedikit untuk kesuksesan di hari mendatang, saat bangkit dari keluhan. sisakan sedikit demi kebaikan badanmu, jangan terus saja disalahkan. nanti keram badanmu disalah-salahi otak dan perasaanmu. padahal kau punya badan yang seksi. cukup seksi untuk merangkak pelan-pelan mencapai sesuatu.

jika aku sendiri, tidak akan lah aku menyiksa diri dan mencari-cari perhatian murahan jika aku marah, akanlah aku ini diam dan berlagak tenang seperti embun yang tetap dingin

jika aku bersedih, hujan pun tidak akan ikut-ikutan turun ke tanah dan semakin menyemarakan kesedihanku. jika aku mati nanti, akan selalu aku datang menghantui seruangan keramaian di ujung kota dimana aku membeli permen yang paling manis di dunia.

jika aku terlalu bahagia, aku akan selalu mengingat jika nanti aku pasti kesedihan mungkin terkena kesusahan. aku akan menampar diri sendiri dengan roda yang menerus berputar.

harus ada semacam pengingat dan penerjemah dunia bagi masing-masing diri. biar tak lupa dan tak lepas ingatan dari mimpinya. biar tak lepas ikatan kaki, dan terus menapak. biar masih berpikir jernih jika nanti akan ada keselibat awan tebal menyelimuti otak. biar masih bisa mengenadari lurus kemudiku untuk hidup. biar aku selamat, atau setidaknya kembali dari kelokan terjam arus hidup yang nanti tidak ada yang tau.

semoga jika.

akan aku ceritakan apa lagi yang terjadi di kelas hari ini. lagi-lagi kemanusiaan yang terasa di benak untuk diruangkan, dituangkan dan ditunangkan dengan kertas.

akan aku ceritakan tentang sebuah kuliah kontemporer yang berbau pemikiran, ranah politik tentunya. pagi kemarin yang diajarkan adalah tentang sebuah semangat, sebuah nilai, dan sebuah diskursus yang tertanam dalam manusia-manusia kelas menengah di masa ini. adalah sebuah ide yang berbau kebebasan, kesetaraan, dan persamaan. sebuah konsep dan teori bertajukkan libertarian.

nilai-nilai liberal ini ternyata sejak aku bocah sudah masuk di dalam ruang di otak-otakku, sebuah ajaran untuk selalu berkompetisi. tontonan yang selalu kau lihat di tivi-tivi lebar layar tipis, dimana semua adalah untuk menjadi yang terbaik, tercantik, tersohor, terkaya, terfaforit, dan semuanya yang ter-baik. jarang, bahkan ada dari sebuah tontonan yang mengajarkan sebuah dongeng mahabrata. adalah semangat kooperatif yang menjadi salah satu nilai pokok komunitarian.

tidak ada yang salah dalam sebuah kompetisi, yang salah adalah dimana kebebasan yang dijunjung adalah semangat individualisme. semua berprioritaskan pada libeti, semuanya menjadi utama diatas nilai sebuah otoritas dan tradisi. salah dikala ruang publik menjadi sempit karena yang akan kau pihak adalah hanya dirimu, hanyalah kamu, dan kamu saja. kau akan takut dengan adanya kehadiran orang lain yang akan mengancam dirimu, mengancam kebebasanmu. itulah yang kau pikir. salah jika berujung pada sikapmu yang individualisme yang mana tak lagi menekankan pada kesosialan manusia dan kerjasama antara dirimu. beginilah doktrin utamanya: hak individu dan prinsip laissez faire.

aku tak akan mengguruimu, karena aku hanya bercerita. pasti kau berfikir, “lalu apa yang salah dengan ini?”

tidak ada. sungguh semuanya normal. tapi coba kau pikirkan saat dirimu, tubuhmu, pikiranmu, pemiliknya hanyalah dirimu sendiri. bahkan bukan milik ibumu, kekasihmu, atau tuhanmu. dan pikirkan lagi apakah yang kau baca dan yang tonton selama ini adakah yang bersifat sebuah kerjasama, bukan semata hanya persaingan? jika iya, aku rasa aku ini kasihan sekali. mungkin kau juga begitu, kasihan. kasihan aku dan kamu hidup dalam sebuah kerusakan sosial. kerusakan struktur dan sistem yang kau pikir ini baik-baik saja.

aku hanya ingin bercerita.

mereka membicarakan persahabatan. sebuah kata penuh dengan makna kebahagiaan, dan pesta

apakah kau akan merasa aku tetap yang satu bagimu

apakah kita akan masih terus bergenggaman tangan dalam riuh amarah nanti, sayang

dan kita pun akan saling memarahi satu sama lain atas perilaku bodoh di ruang tamu

saat kau saling bertemu dengan matahari dimana nanti aku tidak akan lagi berada bersamamu, suatu hari nanti kala aku tak sangup lagi berdiri.

aku menyayangimu dan itu benar. tidak lagi tertampikan. bahkan oleh peneliti tercanggih kelas wahid sekalipun. tapi kau megertilah, tidak akan semua kisah hidupku aku bagi denganmu, atau tidak akan setiap detik aku akan bersamamu. 

ada beberapa burung yang tidak bisa hidup dalam kurung. kadang bulunya terlalu menyilaukan dan manis.

ada beberapa penyair yang berkata “aku lah kembaranmu dalam perasaanku, yang tak bisa tulismu menulisiku”

dan ini lah cinta yang aku punya, yang besar dan aku tak mau kau miliki sepenuhnya. semakin lama, semakin menakutkan. semakin takut demi sebuah kata “hilang”

jadi sembab. kemanusiaan ini menyedihkan, kau pikir manusia itu apa adanya? mereka itu jahat. jahat dan terlalu pintar untuk menipuku kembali.

jadi jangan salahkan dirimu jika kau jahat, dunia ini begitu jahat. semuanya terasa kejam dan taring saling membelalak dan menyeringai licik. sungguh leviathan yang nyata. kau bilang senyum ibumu yang paling sejuk? mungkin itu bukan senyuman itu nyinyiran. kau bilang air mata dari kekashmu adalah yang paling tulus? bukan, itu adalah tipu daya.

orang yang paling pesimis dalam kemanusiaan? pacarku.

kemanusiaan entah apa dan bagaimna masa depannya. yang pasti aku adalah pembenci demokrasi kelas wahid. tak tau mau berharap apa pada bangsa, membenahi otakku saja tak terkira usahanya. baiklah kalau manusia itu ada baiknya juga, tapi tak sebanyak kejahatan. aku ini orang baik, hanya tak percaya dengan orang-orang jahat. ah baiklah, siapa yang sekarang percaya dengan orang-orang jahat? percayakah kita bahwa orang jahat itu adalah baik disisi lain? 

On this day in LIFE Magazine… Louis Armstrong: “I never did want to be no big star” 
LIFE-magazine
dan tidak ada semua kepala bernyawa yang tidak ingin jadi seorang bintang! tapi kalian semua hanya inginkan jadi kaya, terkenal dan instan! selamat hidup di dunia penuh dengan manusia jahat.
apa kabar kemanusiaan di masa depan….

On this day in LIFE Magazine… Louis Armstrong: “I never did want to be no big star” 

LIFE-magazine

dan tidak ada semua kepala bernyawa yang tidak ingin jadi seorang bintang! tapi kalian semua hanya inginkan jadi kaya, terkenal dan instan! selamat hidup di dunia penuh dengan manusia jahat.

apa kabar kemanusiaan di masa depan….


Dengan sepanjang pena aku mengukur jemari

Tak lama setiap tahunnya sejak aku tak punya meteran pengukur

Jemari yang sendiri kini tak lagi bertambah panjang

Apa mungkin karena aku raut penaku?

Penaku tua, milik seorang tua renta dibelakang sekolah

Sekolahku dulu dan ia  yang renta membawa bakul penuh botol,

Guru-guruku meminum-minuman si nyonya renta

Nyonya renta menghitung ribuan ditangan, yang nantinya diselip di belakang dada

Yang sebelumnya dicatat di kertas koran dengan pena tua

Pena tua ditanganku yang telah kuraut sejak tahun-tahun lalu

Pena tua milik nyonya renta dengan bakul jelek

Bakul jelek yang isinya botol-botol,

Biar siang dan lidah-lidah juluran api digemborkan oleh si surya, nyonya renta masih menjual minuman

Biar anaknya, si temanku di kelas saat aku sekolah pakai topi ini, bisa terus lalu naik kelas

Perjuangan macam apa ini si nyonya renta

Perjuangan yang menyedihkan dan linangan air mata pun sudah membeku menatap daya juangnya

Inilah pena si nyonya renta.

Pena yang tua yang aku punya,

Pena si nyonya renta sebelum menyumpalkan receh ribuan ke balik dadanya.



1/21 Next »